Dilansir dari CCN, perusahaan Wall Street JP Morgan memprediksi para pemegang bitcoin akan mengalami lebih banyak menderita jika bear market atau penurunan pasar kripto terus berlanjut.

Menurut analis JPMorgan yang dikutip Reuters, harga bitcoin bisa jatuh ke level US$ 1.260. Namun, analis tersebut memperkirakan bahwa ‘dukungan biaya’ bitcoin ada di sekitar level US$ 2.400. Saat ini, bitcoin diperdagangkan di atas harga terrendah mingguan US$ 3.500 yang dicapai awal minggu lalu, berdasarkan harga yang dilansir Bitfinex.

Sentimen negatif ini mirip dengan yang dipegang oleh analis kebijakan mata uang Cina, seperti yang dilaporkan CCN awal bulan ini. Analis itu memperkirakan pesimisme akan mendominasi pasar yang berhubungan dengan bitcoin pada 2019.

Dalam laporannya, analis JPMorgan mempertanyakan tujuan cryptocurrency. Perusahaan Wall Street itu mencatat bahwa cryptocurrency tidak memiliki nilai secara nyata. Akibatnya, mereka hanya akan masuk akal dalam situasi yang  investor kehilangan kepercayaan pada sistem saat ini.

Menurut JPMorgan, bitcoin memiliki nilai tinggi akan terjadi jika kepercayaan terhadap dolar AS dan emas terkikis. Selain itu, sistem pembayaran global harus gagal agar hal itu terjadi. CEO JP Morgan, Jamie Dimon, pernah mengatakan bahwa ia tidak melihat nilai aktual dalam bitcoin.

Bahkan dalam skenario ekstrim seperti resesi atau krisis keuangan, ada instrumen yang lebih likuid dan tidak rumit untuk bertransaksi, yaitu berinvestasi dan hedging (lindung nilai, yaitu instrumen investasi ke lebih dari satu aset untuk menimalkan risiko kerugian).

Laporan JP Morgan juga menambahkan bahwa minat lembaga keuangan di pasar kripto turun dalam enam bulan terakhir. Akibatnya, investor ritel kini dominan. Ini terlepas dari kemajuan yang telah dibuat sehubungan dengan infrastruktur pasar kripto.

Masih menurut JPMorgan, manajer aset dan dana pensiun masih khawatir tentang kelemahan keamanan dan volatilitas kripto. Selain itu, kecenderungan cryptocurrency digunakan untuk tujuan ilegal juga membuat mereka takut.

Perusahaan Wall Street itu juga menambahkan bahwa bitcoin tidak mungkin menjadi alat pembayaran utama. Pada tahun 2018, laporan JP Morgan menunjukkan tidak ada pengecer besar yang menjadi berita utama karena menerima cryptocurrency.

Namun, JP Morgan menambahkan bahwa ada peluang untuk menggunakan bitcoin sebagai metode pembayaran. Ini terjadi di pasar ketika kontrol atas metode pembayaran ada di tangan perusahaan kecil dan individu.

Analis JP Morgan lebih optimis tentang teknologi blockchain. Para analis mencatat bahwa teknologi blockchain tersebut berpotensi mengurangi biaya perbankan global. Ini mirip dengan posisi yang Dimon sebelumnya ambil bahwa ia lebih mendukung blockchain daripada cryptocurrency.

Namun, para analis menunjukkan bahwa dengan munculnya berbagai platform privat, tidak mungkin ada penggunaan yang luas karena kurangnya integrasi. Selain itu, analis JPMorgan tidak melihat lembaga keuangan menuai manfaat teknologi dalam waktu dekat. Menurut analis, itu akan memakan waktu setidaknya 3 hingga 5 tahun sebelum manfaat kripto mencapai bank.

Sumber: ccn.com 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here