Uji coba terbaru blockchain Red Belly Universitas Sydney — yang berjalan di Amazon Web Services (AWS) — mencatat 30.000 transaksi per detik (txs/sec), dengan waktu tunda transaksi rata-rata 3 detik.

DIlansir dari CCN, para peneliti di Universitas Sydney di Australia telah menyimpulkan hasil uji coba baru blockchain hibrid, yang berada di antara blockchain publik (seperti bitcoin & ethereum) dan blockchain konsorsium (seperti R3).

Dikembangkan secara eksklusif oleh fakultas Teknologi Informasi universitas tersebut, para peneliti akademis mengklaim bahwa Blockchain Red Belly ini dapat dengan cepat meningkatkan transaksi dibandingkan dengan yang lain seperti blockchain bitcoin.

Dr. Vincent Gramoli dari University Sydney — yang mengepalai tim pengembang — mengatakan kepada Australian Financial Review, “Ada blockchain publik seperti bitcoin dan ethereum yang tidak mencoba memecahkan konsensus sebelumnya … tetapi kemudian mencoba untuk menghindarkan forks (variasi blockhain karena perubahan protokol, red) … yang berarti latency cukup besar.”

Blockchain bitcoin dapat menskalakan tujuh transaksi per detik dengan waktu konfirmasi rata-rata 10 menit, menurut blockchain.com. Jaringan ethereum dapat meningkatkan hingga 20 transaksi per detik, menurut obrolan yang melibatkan pengembang ethereum, Vitalik Buterin, terkait dengan rencana untuk meningkatkan hingga 500 transaksi per detik.

Dr. Gramoli menambahkan, “Sejauh ini, blockchain belum menunjukkan bahwa itu bisa berskala (ditingkatkan) dan kami ingin menunjukkan bahwa teknologi blockchain dapat berskala dalam hal jumlah mesin yang berpartisipasi dan memiliki kinerja yang dipertahankan atau ditingkatkan dengan peningkatan jumlah peserta.”

Menurut Dr. Gramoli, blockchain Red Belly merupakan buku besar “komunitas” (community ledger) yang teknologinya terletak di antara model blockchain publik dan model blockchain konsorsium.

“Itu tidak bergantung pada [pemimpin konsorsium seperti R3] karena memiliki pemimpin menjadi hambatan untuk peningkatan atau scaling. Kami menemukan bahwa verifikasi transaksi juga menyebabkan kemacetan, sehingga kami meningkatkan konsensus dan proses verifikasi, dan kami mampu mengukur kinerja,” ujar Dr. Gramoli.

Sementara uji coba khusus ini berjalan pada platform cloud computing Amazon Web Services (AWS), tes sebelumnya di pusat data fisik tunggal dengan 300 mesin menghasilkan 660.000 transaksi per detik, 11 kali lebih tinggi dari jaringan Visa — salah satu sistem pembayaran terbesar di dunia — yang memiliki keluaran maksimum hanya 56.000 transaksi per detik.

Blockchain Red Belly — yang telah diikembangkan selama beberapa tahun dengan biaya produksi ratusan ribu dolar — menjadi berita utama pada bulan Juli 2017 karena uji coba pertama dengan buku besar memroses 400.000 transaksi per detik.

Sumber: ccn.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here