Dikutip dari CCN, salah satu dari empat besar auditor dunia, PwC, melaporkan bahwa 537 penawaran koin perdana atau ICO (Initial Coin Offering) yang dilakukan dalam lima bulan pertama tahun 2018 menghasilkan US$ 13,7 miliar atau sekitar Rp 190 triliun. Lalu dari mana dana $ 13,7 miliar itu datang dan ke mana perginya?

Laporan itu mengutip Daniel Diemers, kepala Blockchain EMEA di PwC Strategy yang bekerja sama dengan Crypto Valley dan empat peneliti yang berbasis di New York, Hong Kong, dan Zurich. Mereka menemukan bahwa aktivitas ICO sebenarnya telah meningkat pada 2018 meskipun terjadi 70 persen koreksi pasar cryptocurrency.

Laporan PwC yang berjudul “Initial Coin Offerings: a Strategic Perspective” itu menjelaskan bahwa peneliti menyoroti pertumbuhan berkelanjutan dan popularitas ICO secara global pada tahun 2018, dengan lebih dari 537 ICO yang dilakukan dalam lima bulan pertama tahun ini menghasilkan total US$ 13,7 miliar. Itu lebih besar dari semua hasil ICO yang terjadi sebelum 2018.

Sebagian besar dana yang diterima oleh 537 penjualan token pada kuartal pertama dan kedua 2018 itu kemungkinan berasal dari investor yang telah memegang sejumlah besar bitcoin (BTH) dan ether (ETH). Ether adalah cryptocurrency asli dari jaringan Ethereum. Sebagaimana berinvestasi dalam token, investor mengirim BTC dan ETH ke operator proyek ICO.

Meskipun benar bahwa ICO akhirnya mengeluarkan sejumlah besar BTC dan ETH ke pasar, dana tersebut dibeli kembali oleh investor yang kemudian mendanai ICO lain dengan BTC dan ETH. Modal baru tidak disuntikkan ke token baru. Para invetsor yang ada di pasar kripto menggunakan kepemilikan kripto mereka untuk berinvestasi pada ICO.

Pada bulan Februari 2018, Fortune melaporkan bahwa setengah dari ICO 2017 gagal atau mati, dan menghilang dari pasar kripto global. Yang mengejutkan, ICO sepanjang 2017 menunjukkan tingkat kegagalan 46 persen. Jika proyek hasil ICO yang memudar karena kurangnya dukungan masyarakat dan modal juga dipertimbangkan, maka tingkat kegagalan ICO 2017 melonjak hingga 59 persen.

Diemers – yang secara ekstensif mengevaluasi dan meneliti proyek-proyek blockchain yang muncul dan kondisi pasar krypto di PwC – mengatakan bahwa setelah terjadi hype (heboh berlebihan) tentang blockchain pada tahun 2017, sektor ICO telah berevolusi dan matang. Dia menekankan bahwa jika aspek hubungan hukum dan investor pada ICO membaik dalam beberapa bulan mendatang, maka tingkat kegagalan ICO akan menurun dan lebih banyak proyek akan menemukan kesuksesan dengan mitra dan investor yang tepat.

Sumber: ccn.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here