Dilansir dari Cointelegraph, pada 30 Mei 2019 lalu, valuasi pasar kripto turun US$ 19 miliar karena harga bitcoin (BTC) turun dari US$9.000 menjadi US$8.000, atau turun sebesar 11%, yang mengejutkan di bursa seperti Bitstamp. Penurunan bitcoin menjadi US$ 8.000 tidak terlihat di grafik penyedia data pasar seperti CoinMarketCap karena pergerakan terjadi dalam periode waktu yang singkat.

Harga Bitcoin segera pulih ke US$ 8.300 setelah penurunannya yang tiba-tiba itu menghilangkan beberapa tekanan dari sisa pasar kripto dan terus naik harganya pada saat berita ini ditulis. Meskipun penurunan harga bitcoin sebesar $1.000 pada 30 Mei, aset digital itu berkinerja kuat terhadap dolar AS sepanjang bulan lalu.

Ether, bitcoin cash, litecoin, XRP, dan aset kripto berkapitalisasi pasar besar lainnya ditutup hari itu dengan penurunan 9% terhadap dolar Amerika Serikat, sementara pemulihan bitcoin yang tepat waktu memungkinkan aset kripto dominan itu meminimalkan penurunannya menjadi sekitar 5%. Analis teknis di sektor kripto, Josh Rager dan Cred, memperkirakan US$ 8.200 menjadi sebagai level dukungan (support) penting yang dapat mencegah BTC jatuh ke wilayah US$ 7.000.

Harga bitcoin terakhir kali turun di bawah US$ 7.000 adalah dalam penurunan cepat pada 17 Maret 2019 lalu, ketika jatuh ke US$ 6.400, yang dipicu oleh penjualan tak terduga 5.000 BTC di Bitstamp, yang kemudian menyebabkan likuidasi massal kontrak di BitMEX. Bitcoin sejak itu menunjukkan momentum yang kuat dan menciptakan reli vertikal ke atas.

Cred mengatakan kepada Cointelegraph dalam sebuah wawancara bahwa selama level dukungan US$ 8.200 dipertahankan, maka kenaikan menjadi US$ 9.600 tetap menjadi target yang realistis. Namun, berdasarkan kinerja historis bitcoin dan kecenderungannya untuk menunjukkan koreksi besar dalam kisaran 30% hingga 40% setelah lonjakan besar dalam harga, Cred mencatat bahwa penurunan 30% di masa depan masih memungkinkan.

Selama tiga tahun terakhir, bitcoin secara umum menunjukkan momentum yang berkelanjutan, terutama dari 2016 hingga akhir 2017. Namun, hal itu cenderung rentan terhadap koreksi dalam jangka waktu yang singkat. Hal ini masih harus dilihat lebih lanjut apakah ada katalis fundamental yang cukup di horizon yang akan mendorong harga bitcoin di atas US$ 9.000 dan berpotensi menjadi US$ 10.000, mengingat kurangnya resistensi di atas US$ 9.000.

Faktor-faktor berikut disebutkan dalam beberapa minggu terakhir sebagai katalis potensial untuk kenaikan harga bitcoin:

  1. Peningkatan dalam permintaan institusional, seperti yang terlihat dalam peningkatan drastis premi Bitcoin Investment Trust (GBTC).
  2. Pintu masuk lembaga keuangan utama seperti Fidelity, Etrade, dan TD Ameritrade.
  3. Halving (pengurangan reward menjadi setengahnya) untuk bitcoin yang dijawalkan pada Mei 2020.
  4. Peningkatan nyata dalam infrastruktur yang mendukung kelas aset.
  5. Meningkatnya permintaan institusional, yang memicu pemulihan minat ritel.

Pada 30 Mei, pada puncak mingguannya, harga saham GBTC mencapai US$ 12,40. GBTC merupakan kendaraan investasi publik yang dioperasikan oleh Grayscale dari Digital Currency Group yang memungkinkan investor berinvestasi dalam bitcoin melalui pasar saham di pasar OTC (On the Counter).

Setiap bagian dari GBTC mewakili 0,00098247 BTC. Dengan demikian, pada harga US$12,40 per saham, harga bitcoin di pasar bebas (OTC) pada dasarnya mencapai US$ 12.182, yang diperdagangkan dengan hampir 40 persen premium.

Dalam laporan Q1 2019, Grayscale menekankan bahwa sebagian besar investasi dalam produk-produknya, termasuk GBTC, berasal dari investor institusional dengan porsi 73%.

Peningkatan kepercayaan diri secara keseluruhan dan peningkatan sentimen di sekitar pasar kripto juga telah menyebabkan tingkat hash blockchain Bitcoin mencapai level tertinggi pada tahun 2019 yaitu 59 exahash, mendekati level tertinggi sepanjang sejarah yaitu 60 exahash yang dicapai pada bulan September 2018. Ketika harga naik dan penambangan menjadi lebih menguntungkan, tingkat hash yang mendukung blockchain Bitcoin diperkirakan akan terus meningkat dalam waktu dekat, yang dapat dianggap sebagai indikator positif untuk stabilitas.

Selain itu, seperti yang dikatakan Cred, momentum bitcoin dalam beberapa bulan terakhir bisa saja dipicu oleh spekulasi, alih-alih oleh katalis fundamental. Oleh karena itu, ada kemungkinan bahwa peningkatan permintaan di kalangan investor — di pasar yang lebih luas — mendorong pasar kripto.

Berbicara kepada Cointelegraph, analis teknis dan pedagang mata uang kripto Josh Rager mengatakan bahwa koreksi yang kuat di pasar kripto masih akan terjadi. Mirip dengan Cred, Rager menyatakan bahwa secara teknis harga bitcoin bisa menuju di atas US$ 9.000 dan naik hingga US$ 9.400. Namun, analis tersebut mencatat bahwa pedagang telah menunjukkan kesediaan untuk mengambil keuntungan di awal US$ 9.000, yang dapat menyebabkan koreksi jika BTC mencapai tertinggi baru tahunan dalam waktu dekat.

Dalam jangka pendek, tergantung pada kemampuan bitcoin untuk bertahan pada level dukungan penting, Rager mengatakan bahwa ada kemungkinan BTC jatuh ke US$ 7.000 jika kehilangan momentum dan mengalami aksi jual tajam.

Munculnya sentimen ini di sekitar bitcoin dan sisa pasar kripto telah menyebabkan para eksekutif industri, khususnya operator bursa, menjadi lebih optimis mengenai tren pasar jangka pendek dan menengah. Cameron Winklevoss, salah satu pendiri di bursa kripto besar Amerika Serikat Gemini, menyatakan optimisme terhadap tren aset dalam tweetnya.

Sumber: Cointelegraph

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here